About

check

Kamis, 25 September 2008

Nyanyian Senyap Minoritas Uighur

Minoritas muslim Uighur kehilangan kebebasannya di negeri sendiri, Xinjiang, Cina. Label teroris membuat Pemerintah Beijing punya legitimasi untuk menekan Uighur.

Banyak minoritas Uighur akhirnya harus tinggal di pengasingan.
ALUNAN MUSIK jazz mengalun ringan. Tiupan saksopon dan klarinet Pol Cousée dan Peter Lutek yang meliuk-liuk, menyihir telinga pengunjung yang memadati Distillerry District, Toronto, Kanada, pertengahan Oktober lalu. Seolah hendak menerjemahkan irama, di panggung yang sama, para pemain akrobat menampilkan kebolehannya. Seorang beratraksi menyeberangi seutas kawat di udara. Yang lain mengayun-ayunkan tongkat api, memainkan hulahoop, meloncat-loncat, melipat-lipat tubuh yang seolah berbahan karet.

Penonton dibuat ternganga oleh pertunjukan Shurum Burum Jazz Circus pimpinan David Buchbinder itu. Sebuah paduan kreatif antara jazz dan sirkus. Sebagian pengunjung barangkali tak sadar jika, seperti dilaporkan The Globe and Mail, dua perempuan pemain sirkus, Aigul Memet dan Gulnar Wayit, adalah Muslim Uighur. Keduanya tampil memukau.

Aigul dan Gulnar, keduanya berusia 28 tahun, justru bisa menunjukkan kemampuannya secara leluasa ketika tampil di negeri orang. Di negerinya sendiri, Xinjiang, Cina, penampilan mereka diawasi secara ketat, hingga membuat mereka memilih hengkang ke Kanada pada akhir Januari lalu.

Dilshat Sirajidin, 40 tahun, yang serombongan dengan Aigul saat keluar dari Xinjiang pada Januari itu, mengaku gerah dengan Pemerintah Komunis Beijing. Pertunjukan-pertunjukan Dilshat dan kawan-kawan diharuskan mendukung propaganda pemerintah.

Pernah, Aigul dan kawan-kawan mengalami penghinaan yang menyakitkan dari aparat yang dikuasai mayoritas Han. “Suatu kali,” kisah Aigul seperti dikutip Radio Free Asia, “kita dibawa ke sebuah ruang pesta pribadi di Fulu Hotel untuk apa yang disebut ‘tugas politik’. Setelah pertunjukan, kita tak diperbolehkan pulang, tapi kita dipaksa untuk makan-minum bersama pejabat-pejabat tinggi mereka.”

Yang menyedihkan, lanjut Aigul, kita dipaksa minum anggur beralkohol. “Padahal sudah kita bilang ‘tidak’,” kata Aigul. “Kita tak punya pilihan. Kita tak mampu melawan,” ujar Dilshat, yang mahir bermain sulap itu.

Di rantau, Aigul, Gulnar, Dilshat, dan rombongannya sudah bisa menghirup udara bebas. Sudah tentu tidak demikian dengan jutaan warga etnis Uighur yang tetap tinggal di Xinjiang. Termasuk keluarga Aigul sendiri. “Mereka (Pemerintah Cina) mengancam keluarga saya: jika saya tak kembali, mereka tak akan bisa melihat saya lagi,” kata Aigul.

Di Xinjiang, lebih dari 8 juta minoritas Uighur hidup dalam ketakutan. Pemerintah Cina memasang pengawasan ketat. Polisi rahasia bahkan kerap membuntuti wartawan yang keluar-masuk komunitas Uighur. Tak heran jika ini membuat orang Uighur selalu mencurigai setiap pertanyaan pengunjung asing. Hampir seluruh aktifitas mereka dikekang, mulai dari pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga kebebasan beribadah.

Terhadap kegiatan kegamaan orang Uighur, parahnya, Pemerintah pun memberi tekanan lebih kuat ketimbang minoritas Muslim lain, misalnya etnis Hui. Aparat melarang mereka memasang loudspeaker di masjid-masjid, melarang imam lokal bertemu dengan komunitas Muslim dari luar, dan membatasi jam-jam masuk masjid.

Aparat juga menghalangi setiap bentuk ekspresi etnis Uighur tampil di publik. “Selama 50 tahun, tak seorang pun diperbolehkan menyanyikan apa yang kita orang Uighur rasakan dan hayati,” kata Sultan Kurash, seorang musisi Uighur, seperti dikutip Far Eastern Economic Review, akhir September lalu. Sultan, yang sempat belajar di Academy of Performing Arts di Urumqi, ibukota Xinjiang, sangat mahir memainkan musik-musik rakyat Uighur. Pada 1990-an, ia berkeliling dari ujung ke ujung Xinjiang, menyanyi dan memainkan dutar, sejenis kecapi berleher panjang.

Don’t Sell Your Land adalah salah satu lagunya yang sangat dikenal rakyat Uighur. Tapi, Pemerintah Beijing menilai aktivitas Sultan ini membahayakan. Mereka lalu berupaya sedemikian rupa membungkam Sultan. Dan, akhirnya, tibalah malapetaka itu: Sultan dilarang main musik, peralatannya dirampas, dan dia diawasi secara ketat.

Tapi, Sultan tak mau menyerah. Ia mencari jalan, dan beruntung: ia berhasil lari ke Swedia. Di kota kecil Eskiltuna, Swedia, ia menyanyi lagi, memainkan musik, menyuarakan kepedihan-kepedihan orang Uighur yang kian terpinggir setelah etnis mayoritas, Cina Han, memadati Xinjiang.

Etnis mayoritas ini belakangan semakin menguasai Xinjiang. Dulu, ketika Pemerintah Komunis Cina dibentuk pada 1949, Cina Han di Xinjiang hanya sebesar 6 persen. Sementara Uighur 75 persen. Sisanya adalah belasan etnis kecil lain, di antaranya etnis Kazakh yang bermata biru dan etnis Tajik yang berwajah Persia.

Namun, sensus 2002 menunjukkan bahwa Cina Han menempati 40 persen lebih dari total 21 juta penduduk Xinjiang. Semenjak Pemerintah mengkampanyekan slogan “Pergilah ke Barat”, orang Cina Han berbondong-bondong membanjiri kawasan Barat daratan Cina ini. Tak heran jika Cina Han berkembang dua langkah lebih cepat dibanding etnis-etnis minoritas asli Xinjiang. Dan, meski populasi pribumi Uighur sebenarnya sebesar 46 persen, lebih tinggi dari Han, Cina Han tetap menempati posisi dominan.

Li Defeng, seorang Han asal propinsi Henan yang pensiunan guru, menyadari hal tersebut. “Sangat sedikit orang asli di sini. Setiap orang seperti entah dari negeri jauh mana,” katanya, pada sebuah sore saat menyaksikan pertunjukan tari yang biasa di gelar di luaran, seperti dikutip Knight Ridder Newspaper.

Orang Uighur juga terpinggirkan lantaran bahasa dan makanan yang berbeda dari mayoritas Han. “Kita tak bisa berkomunikasi dengan mereka. Kita tak tahu bahasa mereka,” kata Zhang Bizhong, pekerja konstruksi dari propinsi Sichuan. “Kita, orang Sichuan, suka makan nasi dan daging babi. Orang minoritas lokal tidak suka daging babi. Mereka tak suka nasi.”

Dru Gladney, seorang pakar studi kawasan Xinjiang dari University of Hawaii, mengemukakan lebih tajam keterpinggiran etnis Uighur oleh dominasi Cina Han. “Jika Anda pergi ke wilayah selatan kota, hampir semua adalah orang Cina Han,” kata Gladney. Kota yang dimaksud Gladney adalah Urumqi.

Semakin membanjirnya orang Cina Han di Xinjiang ini, kabarnya, merupakan keinginan dari Pemerintah Komunis Beijing. Beijing hendak melunturkan populasi etnis minoritas, dengan demikian kontrol terhadap daerah lebih mudah dilakukan. Wang Lequan, seorang pejabat teras Partai Komunis, membantah analisis ini. Pekerja-pekerja migran di Xinjiang, kata Wang, hanyalah mengisi lapangan kerja yang lowong. “Banyak minoritas Xinjiang tidak suka kotor dan kerja berat,” kata anggota Politburo ini di hadapan wartawan di Urumqi.

Meski demikian, Wang menyadari bahwa orang Uighur itu berbahaya. “Mereka telah berkali-kali mengirim pasukan bersenjata di Xinjiang dan mengorganisasi tindak-tindak kekerasan,” ujar Wang. Lebih dari 1000 orang Uighur, kata Wang, dilatih di kamp-kamp al-Qaedah atau Taliban sebelum Amerika Serikat menginvasi Afganistan di akhir 2001. Kelompok ekstrem Uighur ini kini tengah berupaya menciptakan ledakan kekerasan di Xinjiang.

“Xinjiang telah menghadapi berbagai serangan berat dari kaum nasionalis-separatis-teroris sejak 1990-an,” tutur Wang. Serangan Uighur pada 1990-an, kata Wang, telah mengakibatkan setidaknya 160 jiwa tewas, dan lebih dari 400 orang luka-luka, termasuk tokoh-tokoh agama dan kader-kader partai. Pada 2001 lalu, orang Uighur juga melancarkan serangan ke Xinjiang.

Pemerintah Beijing pun semakin bersikap keras terhadap orang Uighur. Sejauh ini, kata Wang, polisi telah menghancurkan 22 sel pemberontak Uighur, dan menvonis lebih dari 50 orang, termasuk ekskusi mati.

Etnis Uighur sendiri memandang bahwa kekerasan yang dilakukan sebagian dari mereka merupakan luapan atas ketertindasan yang mereka rasakan. “Jika sekelompok orang terus didesak ke sudut, ditelanjangi hak-haknya, itu akan membuat mereka lebih radikal, memaksa mereka untuk menyerang balik,” kata Alim Seytoff. Seytoff adalah sekretaris jendral Uyghur American Association, sebuah kelompok eksil di Amerika Serikat yang menampung 1000-an orang Uighur.

Apa yang dialami etnis Uighur sebenarnya tak jauh beda dengan yang terjadi pada warga Tibet. Orang Tibet mengalami tekanan keras dari Pemerintah Beijing, mereka dihalangi hak-haknya untuk mempraktikkan keyakinan dan kebudayaannya. Akibatnya, beberapa kali, orang Tibet pun melancarkan aksi-aksi kekerasan. Tapi, orang Tibet masih lebih beruntung. “Tibet tak pernah mendapat label teroris,” kata Gladney, peneliti dari University of Hawaii itu.

Sedangkan Uighur senantiasa mendapat cap teroris, terutama dari Pemerintah Beijing. Ini membuat Beijing memiliki legitimasi yang kuat untuk melakukan tekanan, bahkan melakukan pemberantasan, terhadap Uighur. Padahal, sepanjang penelitian Gladney, seperti tertuang dalam artikelnya dalam Xinjiang, China’s Muslim Borderland – Studies of Central Asia and The Caucasus, tidak ada terorisme terorganisasi di Xinjiang.

Lebih parah lagi, etnis Uighur minim dukungan internasional. Berbeda dengan Tibet, di mana aktor Richard Gere berbicara lantang ke seluruh dunia saat Pemerintah Beijing menangkapi pendeta-pendeta Tibet, etnis Uighur tak punya siapa-siapa. “Seluruh komunitas internasional bereaksi. Tapi ketika mereka (Beijing) melakukan hal yang sama kepada kami, tak ada yang peduli,” keluh Seytoff.

Kondisi demikian ini rupanya membuat banyak etnis Uighur tersingkir dari tanah airnya sendiri. Sultan Kurash, untuk sekadar bernyanyi dan memetik dutar, harus angkat kaki dari Xinjiang. Sultan juga harus membawa anak, istri, dan ibunya ke tanah rantau, Eskiltuna. Di sini, Sultan bisa berhubungan dengan orang-orang eksil Uighur lainnya, juga dengan komunitas musik rakyat Swedia sendiri.

Sedangkan Aigul Memet dan Gulnar Wayit, untuk sekadar unjuk kebolehan bermain akrobat, harus terlempar ke Toronto. Gulnar malah tak bisa membayangkan bakal kembali ke negerinya. “Kita tak punya rumah untuk kembali. Kepala kita akan menggelinding jika kita dikirim kembali ke Cina,” kata Gulnar, sembari tangannya memperagakan adegan memotong leher.

Dan, di Distillerry District itu, masih dengan iringan musik jazz, warga Toronto dibuat berdecak menyaksikan kelenturan dan kelincahan aksi akrobatik Aigul dan Gulnar. Tak banyak yang tahu, apakah keduanya beratraksi dengan jiwa riang, ataukah dengan hati yang pahit. *
Majalah Syir'ah, Mancanegara, November 2004
Oleh Mujtaba Hamdi

KASGAR,Cagar wisata Jalur sutera

Sejak abad ke-2 SM Kasghar terkenal sebagai pusat perdagangan dunia. Itulah sebabnya, kawasan yang kaya hasil bumi dan sutera ini sempat jadi perebutan berbagai kekaisaran Asia.

Kini dengan magnet sejarah dan kondisi alam, serta penduduknya yang masih "begitu-begitu" saja, Kashgar justru menjadi cagar wisata yang menarik. Bahkan, "Tanpa pernah melihat Kashgar, Anda tidak akan tahu sebagaimana besarnya negeri Cina," kata Nenden Nurhayati yang sempat berkunjung ke sana.

Oasis seluas 141,6 km2 dengan ketinggian 1.290 m/dpl ini terletak di bagian barat lembah Tarim dan disuburkan oleh S. Yarkant dan S. Kashgar (K'a-shih-ka-erh Ho). Letaknya yang unik, membuat kawasan ini memiliki banyak tetangga, antara lain Uni Sovyet (Kirgistan, Tajikistan), Afghanistan, Pakistan, serta India. Namun, sebagai salah satu kabupaten yang masuk dalam Propinsi Xinjiang, Cina, daerah ini hanya memiliki satu-satunya yang bisa disebut kota yakni Kashi atau Kashgar. Selain ada sekitar sebelas "desa ramai" lainnya seperti Shufu, Shule, Yengisar, Yuepuhu, Jianshi, Sache, Zepu, Yecheng, markit, Bachu dan Taxkorgan Tajik.
Xinjiang dengan ibu kota Urumqi, adalah daerah otonomi Cina yang sebagian besar dihuni oleh orang Turki berbahasa Weiwuer (Uigur-muslim). Populasinya kurang lebih 950.000. Sampai sekarang Xinjiang merupakan daerah tujuan para petualang "romantis" yang ingin memuaskan rasa ingin tahu dan merasakan sensasi berada jauh di "ujung dunia", tanpa mempedulikan alamnya yang keras dan panas.
Selain terkenal dengan situs perdagangan sutera, para pelancong biasanya tertarik oleh lukisan-lukisan indah yang terpahat di dinding-dinding gua yang tersebar di daerah ini, oleh reruntuhan-reruntuhan kota-kota kuno di Gurun Gobi, serta indahnya Gunung Tianshan, serta Danau Khayangan yang mempesona. Kota-kota utama Xinjiang yang banyak dikunjungi turis, selain Urumqi yang merupakan basis perjalanan mereka menjajaki oasis lain yang tersebar di kawasan itu, tentu saja Kashgar.
Ajang perebutan penguasa
Kondisi perekonomian serta kemajuan perdagangan kawasan ini tergambar pada kesan-kesan Marcopolo ketika mampir di Kashgar. "Negeri ini subur dan makmur. Tanahnya menghasilkan segala kebutuhan hidup. Penduduknya hidup dari perdagangan dan industri. Mereka telah berhasil mengolah buah-buahan, serta mengebunkan anggur. Di sini terdapat katun yang berlimpah ruah di samping sisal dan rami. Negeri ini merupakan basis bagi para pedagang sebelum mengedarkan dagangannya ke seluruh pelosok dunia."
Di jalur ini, caravan dengan unta berseliweran mengangkut barang-barang dagangan dari Cina ke Asia Tengah yang diteruskan ke Eropa. Perdagangan ini sudah berjalan sejak zaman Romawi pada saat sutera, yang merupakan komoditi utama ekspor Cina, digandrungi wanita-wanita Romawi.
Alkisah, kaisar Romawi di Roma, pada suatu hari yang cerah menampakkan dirinya dalam suatu jamuan dengan mengenakan pakaian yang luar biasa indahnya. Ketika kaum bangsawan serta kalangan kaya mengetahui bahwa kain itu berasal dari negeri Seres (Sino-Saloume), semua orang kemudian berebut mencari tak peduli berapa pun harga serta sulit untuk memperolehnya.
Wajarlah kalau sejak itu Kashgar tak kunjung henti menjadi ajang perebutan pengaruh berbagai pihak yang mengincarnya. Di akhir abad ke-2 SM Cina berhasil menduduki kawasan itu setelah mengusir orang-orang Yueh-chih ke luar dari Propinsi Kansu. Namun genggaman penguasa Cina itu hanya sampai pada awal abad I Masehi, karena orang Yuech-chih berhasil merebutnya kembali.
Setelah melewati berbagai gelombang penaklukan bangsa-bangsa dari Utara dan Timur yang melandanya, Cina kembali menguasai kawasan ini pada akhir abad VII lewat tangan dinasti Tang (618 - 907). Namun tahun 752 Kasghar berhasil dikuasai berturut-turut oleh bangsa Turki, kaum Uighurs (abad X dan XI), orang Kara kitai (abad XII), dan tahun 1219 oleh bangsa Mongol. Pada pemerintahan bangsa Mongol ini jalur perdagangan darat antara Cina dan Asia Tengah berkembang dengan amat pesat.
Pada akhir abad XIV Kasghar dijarah oleh bangsa Timur (Tumerlane) meski kemudian bisa direbut kembali oleh penguasa Cina di bawah dinasti Qing (1644 - 1911). Namun kawasan ini tetap tak lepas dari berbagai benturan kepentingan dan perebutan berbagai pihak. Tahun 1928 sampai 1937 meletus pemberontakan muslim yang dipimpin oleh Ma Chung-ying dengan dukungan Uni Sovyet, menentang penindasan yang dilakukan penguasa Propinsi, Sheng Shih-ts'ai. Namun tahun 1943 berhasil dikuasai oleh pemerintah Cina.
Pergaulan budaya dan kontaknya dengan Uni Sovyet membuat orang Kashgar memiliki ciri khas yang unik. Secara kesukuan, kebudayaan, bahasa dan agama para penduduk Kashgar sama sekali tak punya kemiripan dengan bangsa Cina. Sebaliknya, segalanya mirip dengan penduduk muslim yang tinggal di kawasan Rusia. Wajah mereka pun lebih mirip orang Eropa Timur dan Timur Tengah dari pada orang Cina. Maklum, untuk mencapai Beijing diperlukan lima bulan dengan mengendarai unta atau keledai, sedangkan untuk tiba di jalan utama India, diperlukan lima atau enam minggu saja.
Seorang ilmuwan, Peter Fleming yang datang pada tahun 1935 di sini menulis, "Bagi sebagian besar orang, Kashgar yang jauhnya lima atau enam minggu berjalan kaki dari jalan utama di India, tampak sebagai tempat barbar yang terasing ..." Selain itu, adat yang menonjol di kota ini adalah kegemaran penduduknya mengadakan pesta. Fleming menceritakan hiruk pikuknya pesta yang diadakan oleh penguasa setempat sebelum ia pulang. "Pesta ini sengaja diadakan sebagian untuk kehormatan mereka, sebagian lagi untuk menghormati kita ... Kalian tak akan pernah tahu apa yang biasanya terjadi dalam sebuah pesta di Kashgar. Setiap penguasa tinggi yang berlaku sebagai tuan rumah berdatangan dengan membawa tukang pukulnya masing-masing. Tentara orang Cina dan Turki terlihat di mana-mana; pistol otomatis dan pedang-pedang pembunuh siap digunakan, sedangkan senjata Mauser yang dipegang para pelayan berdenting mengancam punggung kita pada saat mereka menyajikan makanan dengan ramah. Pidato-pidato yang diucapkan para tokoh serta-merta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Rusia, Cina, serta Turki, dan tak seorang pun terbunuh ..." Demikianlah Kashgar di masa lampau.
Pasar Minggu, Jiari Jishi
Kashgar sekarang, sebagai kota terbesar di jalur Jalan Sutera baik jalur utara (melewati Yuli, Korla, Xinhe, Aksu, Arvat, Artush, Kashgar, dll.) maupun jalur selatan (melewati Shache, Pishan, Hotan, Yutian, Minfeng, Qiemo, Ruoqiang, dll.) masih menjadi objek wisata yang digemari. Pasalnya, walaupun sekarang Kashgar kehilangan daya tarik "romantisnya" disebabkan kekuasaan Cina komunis yang mengungkungnya, penduduk serta alamnya tetap merupakan magnet yang mempesona. Kota Kashgar sekarang diperkirakan berpenduduk 200.000 jiwa. Dari jumlah itu 74,62% adalah orang Uigur, dan 24,32% adalah bangsa Han. Perfectoral Kashi sendiri berpenduduk 2,3 juta orang yang terdiri atas 93% merupakan orang Uygur, sisanya adalah bangsa Han, Tajik, Hui, Kirgiz, Ozbek, Kazak, Manchu, Xibe, Mongol, Tatar, dan Daur. Industri yang melahirkan komoditi utama di daerah ini adalah pabrik pemintalan katun, pabrik pewarna tekstil, pabrik semen, tambang batubara, dan pusat energi air.
Pemandangan menarik yang selalu terjadi pada hari Sabtu adalah membludaknya turis ke kota ini. Mereka yang datang dengan pesawat dari Urumqi umumnya berharap bisa menyaksikan keramaian Pasar Minggu atau Sunday Market alias Jiari Jishi. Di pasar ini, sejak Minggu dini hari, ribuan kereta kuda terbuka, kereta keledai terbuka, serta beberapa unta, dan belum lagi pejalan kaki berbondong-bondong menuju Jiari Jishi. Tanpa mempedulikan turis yang lalu-lalang dengan kamera mereka, penduduk Kashgar dan sekitarnya melakukan transaksi jual beli. Bunyi decit kereta-kereta kuda tersebut belumlah bisa dibilang berisik kalau dibandingkan dengan berisiknya binatang-binatang yang diperdagangkan. Kuda-kuda yang meringkik, sapi-sapi yang melenguh, domba-domba mencoba menyaingi bunyi-bunyi lainnya dan tentu saja hampir semua penjual berteriak-teriak menawarkan dagangannya.
Sementara itu di antara ratusan kereta kuda dan keledai serta ribuan orang, sedikit saja yang memberi perhatian pada yang bukan urusan mereka. Kecuali anak-anak yang berteriak-teriak menyapa para turis, orang-orang dewasa lainnya dengan wajah polos mereka, hanya memandang ramah semua orang. Bahkan para pedagang tidak mencoba menaikkan harga setiap kali turis membeli sesuatu.
Pemandangan pertama yang mempesona para turis adalah banyaknya kereta kuda berpenumpang orang-orang Uigur, Tajiks, Kirghiz, Uzbeks, dll. Wanita, pria, anak-anak dan orang tua-tua berpakaian adat menuju arah gerbang pasar dan lalu kita lihat tempat parkir kereta-kereta (tanpa binatang penariknya) dengan tanda khusus. Sementara di ambang pintu pedagang buah-buahan dan sayuran duduk berderet-deret. Ada pedagang roti Arab, makanan (gulai, sate, mi, dsb.), pedagang besi, dan lalu pedagang binatang.
Binatang-binatang yang dipertontonkan kelincahannya untuk menarik pembeli paling banyak menarik perhatian turis. Kuda-kuda dan keledai yang berderap ditunggangi pemiliknya untuk memperlihatkan kekuatan hewan itu supaya mendapat tawaran bagus. Domba dan sapi serta keledai, berderet-deret memenuhi pasar yang luar biasa besarnya ini.
Barangkali kalau diperhatikan, dengan berada di sana kita seolah-olah merasa berada di abad lain adalah karena segalanya tampak primitif. Mereka masih menggunakan alat transportasi seadanya dengan tenaga binatang. Kaum lelakinya bersorban dan berjanggut, sedangkan wanitanya banyak yang berkerudung, berpakaian warna-warni dengan aksesori ramai berwarna emas, sementara itu mereka begitu bersahaja dan malu-malu. Seperti umumnya di negara muslim, berpakaian sangat tertutup. Banyak di antara mereka mengenakan cadar. Kita harus berhati-hati untuk tidak membidikkan kamera pada mereka yang bercadar karena mereka tak akan segan-segan merampas kamera kita dan membantingnya. Para turis wanita sebaiknya berpakaian sopan (tidak mengenakan short walau kepanasan) karena akan mengundang pelecehan seksual pria-pria Kashgar dan pandangan hina wanita-wanitanya.
Di antara debu yang mengepul disebabkan kereta-kereta yang berlalu-lalang, pedagang-pedagang berpakaian kumal dan dagangannya yang kelihatan kotor tak lekang diserbu pembeli.
Itulah Pasar Minggu Kashgar yang begitu banyak mengundang turis melewatkan waktu walau sehari liburan di kota ini. Hal lain menarik yang bisa dilihat di kota ini adalah bazar di setiap sore yang menjual segala macam kebutuhan hidup sehari-hari dan digelar di tepian jalan-jalan tertentu dari mulai stocking wanita sampai sepatu bot, semangka dan melon serta pisau. Meski tak sesibuk dan sebesar Pasar Minggu tapi bazar inilah yang meramaikan kota Kashgar sehari-harinya.
Mesjid kuno
Objek wisata lain yang tak kalah menariknya, biasa dikunjungi turis sambil menunggu pesawat malam, adalah Masjid Id Kah (ai ti ga er qingzhen). Masjid ini dibangun pada tahun 1442 atas perintah Shakesimirzha. Setiap bulan Ramadhan, pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, kawula muda kota ini menabuh beduk dan menari untuk merayakannya. Berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia, masjid ini mampu memberi suasana meriah di sekitarnya karena banyaknya pedagang di depan masjid dan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Lebih jauh dari pusat kota, terdapat sebuah kompleks bersejarah, Makam Abakh Hoja yang dibangun pada tahun 1640. Konon Abakh Hoja adalah putra tertua Yusuf Hoja, tokoh penyebar agama Islam di sana. Menurut sejarahnya, yang dikubur di makam ini tujuh puluh dua orang dari lima generasi sebuah keluarga yang menyebarkan agama Islam di Kashgar dan sekitarnya. Kompleks makam ini dinamai pula Xiangfei mu karena di tempat ini disemayamkan pula seorang putri keluarga Hoja yaitu Yiparhan yang semasa hidupnya adalah salah seorang selir Kaisar Qianlong dari dinasti Qing. Karena harum tubuhnya bagaikan wangi parfum, putri ini diberi nama Xiangfei yang berarti Selir Wangi Kerajaan. Setelah meninggal, tubuhnya dikirim ke Kashgar, dibakar dan disemayamkan di sini.
Selain itu, terdapat patung Mao yang menjulang seolah-olah mengingatkan penduduk siapa tuan di daerah ini. Di seberang patung ini terdapat taman tempat warga Kota Kashgar mengaso dan pendatang berekreasi sambil bersantap dan minum limun warna-warni. Taman ini dinamakan Renmin gongyuan dongwuyuan.
Untuk berjalan-jalan di Kashgar tidaklah sulit. Kita bisa menyewa sepeda, naik "bemo", naik taksi, numpang kereta kuda atau keledai, naik ojek dengan tempat duduk di samping, cukup nyaman kalau kita tidak terlalu mempedulikan bunyinya yang bergemuruh. Tempat menginap pun tersedia banyak dengan berbagai pilihan, baik fasilitas maupun harga sewanya.
Kalau dipandang secara keseluruhan, Kashgar adalah kota yang ramah dan menyenangkan. Penduduknya ramah, sopan, terbuka, bersahaja dan jujur. Daerahnya terbilang nyaman, meski terkadang terdengar teriakan pedagang menawarkan barang jualannya di tepi jalan atau suara derap kaki binatang dan bunyi roda kereta di jalanan menggelitik telinga kita dan membuat kita merasa seolah-olah berada di dunia lain, barangkali seperti dalam film Little House in the Prairie-nya Michael London.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons