About

check

Minggu, 28 Desember 2008

KELOMPOK ISLAM DI SOMALIA SEMAKIN BERKUASA

Citra Al-Shahab identik dengan kelompok Islam garis keras di Somalia. Pada pertengahan bulan Agustus, Al-Shahab berhasil menguasai wilayah Jubba, Jubba Tengah dan Gedo dan berbagi kekuasaan dengan milisi-milisi serta pemerintahan lokal.
SOMALIA (Suaramedia) Sejak pecah dari Persatuan Mahkamah Islamiyah, kelompok Al-Shahab makin kuat dan berhasil menguasi sejumlah wilayah penting di Somalia, antara lain Kismayo, Merca dan sebagian besar wilayah selatan Somalia. Persatuan Mahkamah Islamiyah memegang kendali
pemerintahan di Somalia selama enam bulan sebelum ditumbangkan oleh pasukan pemerintah Federal yang didukung pasukan dari Ethiopia tahun 2006 lalu, yang menjadi awal konflik di negeri itu hingga hari ini.
Kehadiran pasukan Ethiopia di kancah konflik Somalia, mendapatkan dukungan dari negara AS.

Saat ini kelompok Al-Shahab bisa dikatakan menjadi kelompok Islamis yang paling berkuasa di Somalia. Namun kehadiran mereka membuat rakyat Somalia ketakutan dan merasa tidak aman. Sebagian besar rakyat Somalia menilai sikap kelompok al-Shahab otoriter, fanatik dan garis keras sehingga banyak rakyat Somalia yang merasa bahwa masa pemerintahan Persatuan Mahkamah Islamiyah jauh lebih baik.
Kelompok Al-Shahab keluar dari Persatuan Mahkamah Islamiyah karena tidak sepakat dengan langkah yang diambil Mahkamah bernegosiasi dengan pemerintah sehingga terbentuklah pemerintahan transisi Transitional Federal Government (TFG) yang dipimpin oleh Presiden Abdullahi Yusuf.
Al-Shahab menolak bekerjasama lagi dengan Persatuan Mahkamah Islamiyah dan lebih memilih berkolaborasi dengan kelompok Kaanboni pimpinan Hassan Turki serta kelompok kecil bernama Front Islami. Kelompok Kaanboni oleh pemerintah AS dimasukkan dalam daftar kelompok teroris, begitu pula al-Shahab saat menyatakan keluar dari Mahkamah Islamiyah.
Citra Al-Shahab identik dengan kelompok Islam garis keras di Somalia. Pada pertengahan bulan Agustus, Al-Shahab berhasil menguasai wilayah Jubba, Jubba Tengah dan Gedo dan berbagi kekuasaan dengan milisi-milisi serta pemerintahan lokal. Menurut sumber-sumber di wilayah itu, kehadiran Al-Shahab menimbulkan ketakutan di kalangan warga lokal karena sikap para milisi Al-Shahab yang kerap mengancam mereka. Warga setempat hanya punya dua pilhan, mematuhi perintah Al-Shahab atau mengungsi ke negara lain.
"Anda diam dan mematuhi perintah kelompok Islamis itu, atau pindah ke negeri-negeri tetangga, atau mati begitu saja di dunia ini," kata seorang warga.
Pasukan Al-Shahab juga bisa bebas berkeliaran di ibukota, Mogadishu dengan menggunakan kendaraan rampasan milik pemerintah. Tak ada yang berani melawan mereka. Apalagi pasukan pemerintah, pasukan Ethiopia dan pasukan perdamaian dari Uni Afrika kebanyakan terkonsentrasi di bandara, pelabuhan, istana presiden dan kamp-kamp militer. Pasukan-pasukan pemerintah dan pasukan asing kerap menjadi korban penyergapan pasukan Al-Shahab.
Al-Shahab juga dilaporkan sering mengancam para pekerja kemanusiaan yang membuka kantor di Somalia dan siapa saja yang dianggap mendukung pemerintahan transisi Somalia.
Seiring dengan kekalahan-kekalahan yang dialami pasukan pemerintahan transisi Somalia selama lima bulan terakhir, aksi-aksi serangan terhadap para aktivis sosial kemasyarakatan, pekerja LSM dan aktivis bantuan internasional semakin meningkat. Sebagian dari mereka diculik dan tidak diketahui nasibnya.
Eksistensi Al-Shahab di Somalia bukan hanya memicu ketakutan dan kekhawatiran di Somalia, tapi juga dunia internasional terhadap kondisi kemanusiaan yang makin memburuk di negeri itu. Keinginan untuk menarik pasukan asing, terutama pasukan Ethiopia pun menjadi dilematis.
Buah Simalakama

Pada awalnya, Al-Shahab yang kala itu masih bergabung dengan Persatuan Mahkamah Islamiyah bersama-sama berjuang untuk mengusir pasukan Ethiophia yang dianggap sudah ikut campur dalam urusan dalam negeri Somalia. Ethiophia berani mengirimkan pasukannya ke Somalia karena mendapat dukungan dan restu dari AS untuk menumbangkan pemerintahan Mahkamah Islamiyah.
Namun sekarang konflik Somalia makin rumit, karena Al-Shahab dan Persatuan Mahkamah Islamiyah justeru gontok-gontokan dan saling serang. Mahkamah Islamiyah pernah menangkap sejumlah pasukan Al-Shahab karena mencurigai kelompok itu menculik seorang pejabat Mahkamah Islamiyah.
Pasukan Ethiopia sendiri tidak berkutik menghadapi perlawanan kelompok Al-Shahab sehingga kehadiran mereka tidak efektif lagi untuk melindungi pemerintahan transisi Somalia. Sementara kelompok Al-Shahab makin menunjukkan kekuatannya dan berhasil memperluas daerah kekuasaannya.
Seandainya Ethiopia mundur dari Somalia, setidaknya mereka tidak terperangkap dalam kekacauan akibat konflik internal di negeri itu. Meski dampaknya akan menimbulkan kevakuman kekuasaan yang potensial memicu konflik lebih dalam di Somalia. Tapi pemerintahan di Addis Ababa, ibukota Ethiopia, nampaknya akan memilih jalan yang mereka anggap terbaik di tengah situasi yang sangat buruk, keluar dari Somalia. Jika itu terjadi, mampukah Somalia mengatasi konflik di dalam negerinya yang sudah membuat rakyatnya demikian menderita? (dari berbagai sumber)
http://www.suaramedia.com
KAMIS, 04 DESEMBER 2008 16:31

TAKUT ISLAMISASI,WARGA TOLAK PENDIRIAN MASJID DI KOTA PANKOW,BERLIN TIMUR

Warga Pankow-Heinersdorf, sebuah kota kecil di Berlin Timur, Jerman menolak pembangunan masjid pertama di wilayah itu meski sudah mendapat izin dari pemerintah kota setempat. Mereka juga mengatakan tidak mau hidup berdampingan dengan warga Muslim.
Beragam alasan yang dikemukakan warga atas penolakan tersebut. Seorang laki-laki berusia 50 tahunan pada AFP, Minggu (14/5) menuding warga Muslim ingin mendirikan kekhalifahan di Eropa.

"Meski masjid itu tidak besar dan mereka (warga Muslim) mengatakan tidak akan menimbulkan kebisingan, saya tidak mau ada masjid di sini," kata laki-laki yang tidak mau disebut namanya itu.
Menurut walikota distrik Pankow, Burkhard Kleinert yang juga anggota kelompok sayap kiri di Jerman, warga di kota itu ketakutan wilayahnya akan 'di-Islamkan' sehingga harga tanah akan anjlok. Mereka juga khawatir pendirian masjid itu akan menimbulkan persoalan dan keramaian.
Kleinert mengatakan, dewan lokal sudah menerima sejumlah ancaman yang menyatakan akan membakar masjid jika jadi didirikan. Atas munculnya konflik ini, ia menyalahkan dewan kota yang tidak memberi informasi sebelumnya pada warga lokal bahwa mereka sudah menjual sepetak tanah pada warga Muslim setempat.
Pada akhir Maret lalu, dewan kota menggelar pertemuan publik yang dihadiri sekitar 500 orang tentang rencana pendirian masjid itu. Pertemuan yang melibatkan para pemuka agama Islam dan anggota partai neo Nazi, Partai Nasional Demokratik, dilakukan sebanyak tiga kali dan hampir berakhir dengan keributan.
Sekarang, warga setempat membentuk sebuah komite resmi untuk menentang pendirian masjid tersebut dan memisahkan diri dari kalangan neo Nazi yang juga memprotes pendirian masjid itu.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan, warga Muslim di Pankow-Heinersdorf mengalah dan menunda pembangunan masjid tersebut. "Kami akan menunggu sampai sikap warga reda sebelum kami memulai pembangunan," kata Imam Abdul Tariq. Padahal surat izin pembangunan dari walikota sudah keluar sejak bulan April lalu.
Tariq mengaku heran dengan alasan kekhawatiran yang diajukan warga. Namun ia bertekad untuk memberikan pengertian pada warga setempat. "Kami akan mengatasi sikap penentangan mereka dengan menunjukkan bahwa kami adalah umat yang bersahabat dan berperilaku baik," katanya. Tariq menegaskan, kalau warga tetap menentang, ia akan minta aparat keamanan ikut menjaga masjid mereka.
Warga Muslim di Jerman telah berhasil mendirikan sebuah masjid di kota Tegel dekat bandara. Mereka terpaksa mendirikan masjid di tempat itu karena mereka hanya mampu membeli tanah di tempat itu. Padahal letaknya tidak cukup layak, karena berada di tengah-tengah jalan utama, gedung-gedung apartemen dan toko-toko makanan cepat saji. Warga Muslim di Berlin membeli tanah itu dari sebuah perusahaan yang menanganai privatisasi tanah-tanah milik bekas kelompok Republik Demokratik Jerman.
Masjid sebenarnya bukan bangunan yang asing bagi warga Jerman. Masjid pertama di Jerman didirikan di Postdam oleh Raja Frederick William I asal Prusia untuk pasukan tentaranya yang berasal dari Turki.
Saat ini ada sekitar 30 masjid di Jerman, kebanyakan berada di kota Neukölln dan Kreuzberg. Di kota Berlin sendiri, masjid pertama dibangun pada 1924. Saar ini jumlah warga Muslim di Jerman diperkirakan mencapai 3,4 juta jiwa, 2/3 nya adalah Muslim keturunan Turki. Agama Islam menjadi agama ketiga terbesar di Jerman setelah Protestan dan Katolik. (ln/iol)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons